Senin, 18 Maret 2013

Nek, Ketulusanmu Membuatku Malu

Ketika melihat kemiskinan tak menghalangi seorang nenek untuk memelihara seorang anak yatim piatu yang berkebutuhan khusus, maka kagum dan malu tak kuasa ditahan di hati ini.

Iqbal (8 tahun) adalah seorang yatim piatu yang ditakdirkan Allah sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK) yang "menderita" cerebral palsy (gangguan fungsi otak). Tumbuh-kembangnya mengalami hambatan sehingga tak seperti yang dicapai anak seusianya secara kebanyakan. Saat ini ia belum bisa bicara. Postur, gestur dan gerakannya kaku karena motorik kasar dan halusnya masih "jauh" dari sempurna. Sang bunda wafat saat melahirkannya dan sang ayah beberapa bulan lalu menyusul berpulang. Suatu kondisi yang secara zahir manusiawi memprihatinkan. Namun Allah mengirimkan baginya seorang manusia berhati tulus, seorang nenek yang bukan neneknya secara biologis, untuk memeliharanya.




Saya tidak tahu nama beliau. Kami hanya biasa memanggil beliau dengan Nini Iqbal (neneknya Iqbal). Terlihat jelas bagaimana kasih sayang yang beliau curahkan kepada Iqbal setiap kami bertemu di rumah terapi untuk ABK dari keluarga dhuafa yang kami kelola. Tentu bukan hal yang mudah bagi beliau merawat seorang ABK di tengah ekonomi beliau yang juga berkekurangan. Dalam kondisi beliau yang juga membutuhkan bantuan namun masih menempatkan diri sebagai pengulur bantuan.

Masya Allah, betapa indah kalau sifat rahmah dan yakin akan janji Allah sudah tertanam di kalbu. Keterbatasan ekonomi tak kuasa membatasi pengejawantahan keluhuran budi. Kasih sayang dan kemanusiaan yang berlandaskan iman.

Nek, semoga engkau kan menjadi orang yang dekat dengan Rasulullah SAW. Rumahmu yang sederhana tempat si yatim terpelihara insya Allah tergolong sebagai sebaik-baik rumah sebagaimana sabda Sang Junjungan:

“Aku dan pemelihara anak yatim di surga seperti ini (dan beliau memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya, lalu membukanya (HR. Bukhari, Turmudzi, Abu Daud)

“Barangsiapa mengambil anak yatim dari kalangan Muslimin, dan memberinya makan dan minum, Allah akan memasukkannya ke surga, kecuali bila is berbuat dosa besar yang tidak terampuni.( HR. Turmudzi)

“Sebaik-baik rumah kaum Muslimin ialah rumah yang di dalamnya anak yatim diperlakukan dengan sebaik-baiknya, dan sejelek-jelek rumah orang Islam ialah rumah yang di dalamnya anak yatim diperlakukan dengan jelek. (HR. Ibnu Mubarak)


Astaghfirullah, masih terlampau banyak yang diri ini harus pelajari tentang ketulusan hati dan kerelaan berbagi. Ikhlas dalam amal, yakin dalam iman dan hening dalam ihsan.
Dan aku malu.
Read more

Sabtu, 09 Maret 2013

Bahagia itu sederhana?

Saya menulis paragraf awal posting ini sembari mendengar riuh anak-anak Raudhatul Athfal asuhan isteri saya yang sedang senam pagi. Kegiatan saya hampir setiap pagi memang di sini. Ada bahagia tersendiri yang saya dapati setiap kali di sini, mungkin karena energi dan aura positif yang terpancar dari insan-insan kecil tanpa dosa ini.

Saya meyakini suasana positif akan membawa perasaan positif pula. Keceriaan anak-anak yang ringan tanpa beban, tulus tanpa akal bulus, dan polos tanpa poles "mengajak" sekelilingnya untuk lebih gembira dan bersemangat. Mungkin tepat kalimat yang cukup populer saat ini: "bahagia itu sederhana".

Ya, benarlah bahagia mereka sederhana. Benarlah pula kita yang dewasa lebih rumit untuk berbahagia dengan hidup yang mustahil tanpa problema dan gundah gulana. Ada hal yang penting dalam kesederhanaan mereka yang kadang kita dewasa terlupa: kalbu mereka bersih tanpa angkara, akal mereka belum sempurna tanpa ego yang bersifat durjana. Itulah kalbu yang damai, qalbun salim. Kalbu yang diterangi Nur Ilahi tanpa noktah dosa.

Dalam perspektif tasawuf dalam Islam, segala yang datang dari Allah adalah kebaikan. Kebaikan dari Allah sejatinya adalah kebahagian, namun interaksi frekuensi manusia dan frekuensi Allah terkadang gagal ber-resonansi secara sempurna bahkan gagal sama sekali dikarenakan interferensi dosa dan jamming dari syaitan. Bias dan tak sesuai asal. Tangkapan batin dan indra menjadi tidak selayaknya. Bukan karena frekuensi Allah yang tidak digdaya, tapi kelemahan manusia dalam memahami hikmah yang disimpan Allah di relung terdalam suatu peristiwa. Bukan benderang matahari yang tiada, tapi manusia yang menutup mata.

Tentu tidaklah adil menyederhanakan komparasi kebahagian usia yang teramat belia dan dewasa. Namun ada yang bisa dipetik bahwa bahagia itu asalnya di dalam hati. Faktor eksternal yang sejatinya netral akan memancing sikap, kedewasaan usia, akal dan kalbu untuk bereaksi, dimana syukur atau sabar adalah sebuah penyikapan atas faktor eksternal yang menihilkan ego, membuat persepsi atas situasi dan kondisi menjadi positif. Tiada sombong kala bersyukur, tiada ratapan kepada dunia di kala bersabar.

Sulit? Ya, teramat sulit malah. Saya pun masih teramat jauh dari tataran ideal ini. Mencong sana mencong sini, melenceng sana melenceng sini. Saya menuliskan ini juga mungkin karena faktor eksternal sedang dapat dikatakan nol, dapat berpikir tanpa gundah, alias mumpung masih "waras".

Jadi mohon maafkan saya yang lancang bertutur seakan diri ini adalah si qalbun salim dan luhur budi. Bila ada benarnya tentu berasal dari Allah, bila ada salahnya maka niscaya dari si dhaif dan faqir ini. Teriring doa semoga kita semua selalu dalam bimbingan taufik dan hidayah Allah.

Semoga bermanfaat dan Allah ridha. Wassalam.
Read more

Aku iri kepadamu, Akhi fi-Llah...

Ada seorang sahabat yang saya kenal pertama kali di dunia maya yang secara fisik baru sekali kami dipertemukan Allah. Tak sungkan dan tak sulit untuk saya katakan, bahwa darinya saya banyak belajar tentang beramal dalam senyap.

Entah berapa kali dan berapa banyak dia menitipkan sebagian hartanya kepada kami agar disalurkan. Kepada orang-orang di seberang pulau yang tak pernah dia sua, namun hartanya telah sampai menyapa dan mengelus mereka.

Tak hanya majelis ilmu yang keluarga besarnya perjuangkan, sepanjang yang saya tahu selama persahabatan ini dia sudah mewakafkan diri, harta dan ilmunya di Palestina dan Suriah yang tengah membara. Tutur katanya santun, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Tiada indikasi di avatar maupun di twitnya bahwa dia sudah, sedang dan akan berjuang di tanah jihad. Tanpa avatar mujahid memanggul senjata, tanpa twit yang menggelora dan berbusa tentang bahasa pedang. Tapi nyatanya, raganya sudah pernah ke sana. Kakinya sudah berdebu menapak sabilillah. Dalam senyap, tanpa hiruk-pikuk.

Dan dalam senyap pula aku iri denganmu, akhi fillah..

Read more

Jumat, 08 Maret 2013

Berisik tapi asik. Asal ...

Sebenarnya saya sering bingung juga liat kelakuan para pekicau di twitter ini. Hampir segala perkara berpotensi menjadi bahan perbincangan, baik secara bercanda, ringan, serius bahkan sampai twitwar. Tapi begitulah adanya, sejatinya tweeps adalah pekicau yang berusaha berkicau semerdu mungkin menurut seleranya, ada yang peduli dengan selera orang lain, banyak pula yang tidak. Ada pula yang minim kicau, lebih suka memantau linimasa dan retweet yang dia suka.

Saya bukan expert dalam social media, apalagi kritikus. Social media suka atau tidak memang -menurut saya- semacam miniatur dunia nyata. Orang punya gaya masing-masing dalam mengekspresikan dirinya di dunia maya ini, ada yang dengan "pencitraan" (dalam artian topeng), ada yang apa adanya, juga kombinasi keduanya.

Dakwah pun memiliki media tambahan dalam upaya penyebarannya. Para da'i sudah seharusnya menyadari bahwa socmed ternyata sangat bertenaga dengan jangkauan yang hanya dibatasi sejauh jangkauan internet. Para pengemban dakwah yang mumpuni dalam ilmu agama dan dialektika sangat cocok berkiprah di socmed, terutama twitter, dimana pertarungan ide dan paham sangat riuh.

Pertarungan ide dan pemahaman ini tak hanya lintas agama dan paham/isme, tapi juga internal agama dan isme itu sendiri. Satu rumpun Islam saja entah ada berapa segmentasi dan fragmentasi. Sebut saja pro kontra antar mazhab/manhaj, mazhabi-non mazhab, perdebatan khilafiyah taqlid-tawasul-tabarruk-bid'ah-ziarah kubur-jihad-demokrasi dll. Bagi saya sebenarnya perdebatan dan diskusi yang sehat, argumentatif dan berkonsentrasi kepada konten tanpa penyerangan pribadi adalah sesuatu yang menyehatkan akal, mungkin bahasa sekarang populer dengan kata "mencerahkan".

Diskusi antar pakar yang berdialektika secara mahir dalam berbagai bidang diperlukan agar yang awam (seperti saya) tercerahkan, mengetahui dan memahami argumen yang menyangga suatu pemahaman. Diskusi yang hangat bahkan panas tetaplah lezat bila masih di dalam wadah yang steril dari pelampiasan angkara.

Entah apa rahasia yang Allah simpan kenapa selalu ada bahan perdebatan dan manusia terpancing untuk memperdebatkan. Bahkan Kitabullah dan Sunnah Rasul pun tak luput menjadi bahan perdebatan sekaligus alasan. Mungkin menyuruh kita berpikir dan bersikap secara manusiawi sesuai fitrahnya atas perbedaan. Kala perdebatan agama tak jua menemukan persamaan, maka hendaknya jangan tiada didapati persaudaraan. Pahamilah bahwa saudara kita pun memiliki landasan. Benar atau salahnya bukanlah ranah kita memutlakkan penghakiman, selama kita masih menghirup udara dari Sang Maha Rahman.

Yang saya pahami: Bila tak jua ada kesepakatan dalam persoalan agama, maka baik-baiklah hidup di dunia dan sampai jumpa di akhirat. Wassalam.
Read more

Rabu, 06 Maret 2013

Kiat/Tips Praktis Ibadah Umrah

Ibadah umrah adalah ibadah idaman yang menuntut kesiapan fisik dan mental, teknis dan nonteknis. Tapi insya Allah ibadah ini akan dimudahkan Allah karena kita adalah tamu-Nya. Kalaupun ada kesulitan di dalamnya maka yakinlah bahwa ada hikmah di baliknya.

Di sini saya ingin berbagi sedikit tips berdasarkan pengalaman pribadi.


Di Indonesia

  • Sebaiknya mendaftar di biro perjalanan/travel agent yang sudah mapan dan berpengalaman. Bonafid dan track recordnya oke pokoknya. Mereka biasanya sudah memiliki hubungan yang baik dengan Kedubes Saudi Arabia (menyangkut visa), akomodasi, transportasi dan konsumsi. Catering biasanya menyediakan makanan nusantara, tak ada salahnya ditanyakan kembali kepada travel agent.
  • Pastikan sudah memiliki paspor yang dengan nama anda yang tercantum sebanyak 3 nama (nama depan, tengah dan belakang). Bila nama anda kurang dari 3 maka bisa ditambahkan nama ayah sampai kakek. Misalnya nama anda hanya Ahmad, nama ayah Bukhari dan nama kakek Muslim, maka nama yang tercantum di paspor adalah AHMAD BUKHARI MUSLIM. Pihak travel agent dan imigrasi sudah sangat mengerti ini, jadi jangan kawatir.
  • Apabila travel agent tidak mengurusi pembuatan paspor maka pastikan pembuatan paspor anda tidak melalui calo. Pada bulan Oktober 2012 tarif resmi pembuatan paspor adalah Rp. 255.000. Dalam 4 hari kerja setelah anda diambil foto paspor maka paspor sudah bisa diterima. Ini sudah standar di kantor imigrasi.
  • Syarat pembuatan paspor tidak sulit, hanya KTP, Kartu Keluarga, Akta Kelahiran/Ijazah. Aslinya diperlihatkan saat pendaftaran.
  • Pelajari dan kuasai manasik umrah. Bila travel agent tidak menyediakan, belajar di tempat lain.
  • Pelajari bahasa percakapan sederhana dalam bahasa Arab. Di Makkah dan Madinah kebanyakan petugas tidak menguasai bahas Inggris. Namun ada banyak petugas kebersihan dan pekerja konstruksi perluasan Masjidil Haram yang berasal dari Indonesia. Jadi bisa tanya-tanya informasi sama mereka.
  • Pantau perkiraan cuaca di tanah suci. Ini menyangkut persiapan pakaian dan obat-obatan yang akan dibawa. Prakiraan cuaca ini bisa dipantau di accuweather.com. Situs ini punya reputasi yang baik dalam akurasi dan juga prakiraannya bisa sebulan ke depan.
  • Bawa pakaian seperlunya saja. Pakaian ihram dan tas biasanya sudah disediakan travel agent. Tinggal persiapkan pakaian sehari-hari saja. Di sana juga banyak menjual pakaian dan sandal karet dengan harga relatif murah. 
  • Bawa obat-obatan pribadi baik obat penyakit khusus (darah tinggi, diabetes dll) maupun umum seperti painkiller, obat diare dll. Perlu diperhatikan bahwa cairan di atas 100 ml dilarang dibawa ke dalam pesawat. Jadi minyak kayu putih dan semisalnya bawa dalam kemasan kecil kurang dari 100 ml.
  • Jangan membawa gunting dan benda tajam  di dalam tas bagasi kabin, masukkan di bagasi/luggage saja karena apabila tidak maka akan disita sekuriti bandara.
  • Ketahui dengan jelas setidaknya gambaran kasar itenerary/jadual perjalanan. Apabila anda dari Jeddah langsung ke Makkah (langsung umrah), berarti miqat di Jeddah. Ini mengharuskan pakaian ihram dibawa di tas bagasi kabin karena mandi sunnah umrah, berganti pakaian ihram dan shalat sunnah umrah di bandara King Abdul Aziz Jeddah. Apabila ternyata dari Jeddah tujuannya adalah Madinah, maka pakaian ihram bisa dimasukkan di bagasi saja. Biasanya hal ini akan dijelaskan travel agent/pembimbing.
Di Saudi Secara Umum
  • Bawa uang cash secukupnya saja. Penukaran uang di Saudi banyak sekali dan nilai tukar SR/Saudi Riyal relatif lebih murah daripada di Indonesia. SR1 berkisar Rp.2.500-2.700. Uang tabungan anda bisa ditarik dengan ATM bank sana dengan charge rata-rata SR10 per penarikan. So be wise.
  • Untuk komunikasi selular pakai simcard operator sana saja. tarifnya jauh lebih murah dan kita tidak terkenan biaya roaming internasional. Rata-rata tarif menelepon ke Indonesia  SR0,5/menit. Bisa pakai STC, Mobily, Zain dll. Tarif BB rata-rata SR30/minggu.
  • Ada baiknya membawa jack adaptor berkaki tiga, karena di hotel banyak memakai colokan berkaki 3. Boleh juga ditambahkan fitting kombinasi kalau anda membawa beberapa gadget agar bisa charging batere secara bersamaan. Kalo punya powerbank, bawa!
  • Bagi yang membawa bayi atau balita, diapers dan susu formula kebanyakan dijual di apotek/farmasi. Sebaiknya bawa dari tanah air, takutnya gak cocok. Diapers jenis pants/celana juga sulit didapatkan di sana, kebanyakan menjual jenis biasa/non-pants. Kurang praktis untuk balita yang traveling karena harus dibaringkan dalam pemasangannya.
  • Apabila memang memerlukan kursi roda, hubungi travel agent agar menyediakannya. Mereka dapat menyediakan kursi roda di sana lengkap dengan petugas pendorongnya. Biasanya dikenakan biaya tambahan untuk ini.
Di Makkah:


  • Bila membawa balita sebaiknya memakai kursi roda. Ini akan sangat membantu dalam pelaksanaan thawaf dan sa'i. Saya sudah mencoba tanpa kursi roda, ternyata sangat melelahkan untuk menggendong anak saat thawaf dan sa'i. Kursi roda bisa dipinjam secara gratis di Masjidil Haram. Letaknya di belakang masjid, tak jauh dari Mas'a/tempat sa'i. Tanyakan aja sama petugas di sana.
  • Kursi roda ini bisa dibawa balik ke hotel buat dipakai lagi. Tapi jangan lupa balikin barang inventaris masjid itu ya. Hehehe..
  • Baby stroller/kerete bayi tidak boleh dibawa masuk ke dalam masjid. Ada tempat penitipannya di dekat Pintu 1 (Gate King Abdul Aziz/Bab Malik Abdul Aziz).
  • Bawa kantong plastik atau tas tenteng bila ke masjid buat sandal/sepatu. Di Masjidil Haram memang disediakan kantong plastik, namun seringkali kehabisan juga.
  • Hafalkan nama pintu tempat anda masuk, pastikan keluar lewat pintu yang sama untuk meminimalisasi kemungkinan kesasar. Plang nama tiap pintu warnanya beda-beda, jadi cukup memudahkan.
  • Pihak travel agent tentu sudah menyiapkan itenerary untuk ibadah umrah anda, namun biasanya hanya 2-3 kali mengambil miqat atau tidak setiap hari. Apabila ingin mengambil miqat di luar jadual, maka Tana'im menjadi pilihan yang paling dekat (-+7 km dari Masjidil Haram). Banyak pilihan transportasi buat ke sana. Yang paling nyaman naik taksi sedan, biayanya SR30-SR50 (nego dan malam semakin murah) untuk charter pergi-pulang. Bisa diisi 4-5 orang.
  • Bawa uang seperlunya saja bila ke masjid. Jangan lupa buat sedekah para pengemis di luar masjid dan juga para petugas kebersihan dan penyedia air zamzam. Mereka akan dengan senang hati menerima.
  • Apabila ada barang yang tercecer di sekitar Ka'bah, maka bisa ditanyakan kepada polisi yang khusus mengurusi ini. Meja/pos mereka terletak di Hijir Ismail. Saya pernah tercecer dompet saat mencium Hajar Aswad, alhamdulillah ditemukan di sini.
  • Apabila tidak ingin menggunakan jasa "taxi/ojek" untuk mencium Hajar Aswad, maka jangan pedulikan ajakan orang (baik laki-laki maupun perempuan) yang menyuruh anda mengikuti dia. Setelah berhasil anda akan dimintai "hadiah" setidaknya SR100. Seorang kawan ada yang sampai harus keluar Rp.500.000 (ojek ini banyak orang Indonesia juga dan terima rupiah). Tapi kalo mau bagi-bagi rezeki ya silakan :)
  • Setiap Kamis-Jumat biasanya jamaah sangat padat karena weekend di negara-negara Arab. kalo mau shalat Jumat di dalam masjid, sebaiknya datang sebelum pukul 10.30.
  • Jamaah yang thawaf memang tidak pernah sedikit, namun sepanjang pengalaman saya waktu dhuha dan ba'da zhuhur sedikit lebih "lengang".
  • Bawa botol mineral kosong buat membawa air zamzam ke hotel (kalau mau).
Di Madinah



  • Perbanyak shalawat kepad Nabi SAW dan rendahkan suara selama di sana.
  • Di Masjid Nabawi jamaah perempuan melalui pemeriksaan. Jangan membawa kamera atau handphone berkamera. Kalo mau bawa juga letakkan di dalam tas tenteng di bawah sandal. Isteri saya sukses dengan trikm ini. Tapi gak jaminan sukses terus lho ya. :D 
  • Raudhah sangat padat setelah shalat fardhu berjamaah. Sebaiknya cari waktu di luar itu. Namun jamah perempuan dibatasi sampai jam 12 malam saja.
  • Kalau ingin berdoa di makam Rasulullah SAW sebaiknya jangan mengangkat tangan karena akan ditegur askar dan petugas penjaga.
  • Madinah adalah tempat terbaik untuk membeli kurma. Jangan lupa beli kurma Ajwa/kurma Nabi. 
Silakan dibaca juga tips-tips umrah lain di http://www.tripadvisor.com/ShowTopic-g293993-i4536-k2868507-Tips_for_umrah-Mecca_Makkah_Province.html

Semoga bermanfaat dan Allah ridha. Wassalam.

keyword: umrah, umroh, umra, tips-tips praktis
Read more

Our Umra Journey (Part 3)

Hari ke-8: Senin, 28 Januari 2013
Alhamdulillah pagi itu kami sekeluarga diizinkan Allah untuk shalat dan berdoa di Raudhah serta berziarah ke makam Baginda Rasulullah SAW, Abu Bakr RA dan Umar RA yang sekarang sudah termasuk dalam areal bangunan Masjid Nabawi.

Raudhah (areal antara rumah dan mimbar Rasulullah SAW) adalah salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa. Kalau selepas shalat fardhu berdesakannya luar biasa di sini. Sebaiknya di luar waktu-waktu itu, namun jangan berharap di sini akan sepi. Yang berbeda hanya kadar berdesakannya aja. Areal Raudhah ditandai dengan permadani berwarna hijau, berbeda dengan permadani masjid yang berwarna merah.




Raudhah
Makam Rasulullah SAW, ABu Bakr RA dan Umar RA


Hari ke-9: Selasa, 29 Januari 2013
City tour time! Kali ini kami ke Masjid Quba, perkebunan kurma, Uhud dan Masjid Qiblatayn.

Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW dan para sahabat. Menurut Allah dalam Al-Quran, masjid ini disebut sebagai "masjid pertama yang dibangun atas dasar taqwa".



Masjid Quba
Lanjut ke perkebunan kurma. Namun saat itu tidak sedang musim panen  karena kami datang di musim dingin sedangkan panen dilakukan pada musim panas. Di sini ada tempat penjualan berbagai macam jenis kurma dari jenis ajwa (kurma Nabi), barni dll termasuk kurma mentah yang dipercaya baik untuk memperbaiki kesuburan pasutri yang belum memiliki keturunan. Yang megang mikrofon untuk cuap-cuap berjualan adalah orang Indonesia. Dapat dipastikan kalo jamaah Indonesia sangat banyak yang ke sini.






 

Setelah puas membeli kurma dan berbagai oleh-oleh seperti kismis dll kami pun melanjutkan tur ke tempat yang sangat bersejarah, yaitu Jabal Uhud. 

Jabal Uhud terletak sedikit di luar kota Madinah berupa jajaran gunung sepanjang -+ 7 km. Insya Allah sebagaimana Raudhah nanti gunung ini pun ada pula di surga. Di sini lah tempat perang antara kaum muslimin dan musyrikin Quraisy, perang yang di fase awalnya dimenangkan paukan muslimin namun pada akhirnya keadaan berbalik karena ketidaktaatan pasukan pemanah yang dilarang Rasulullah SAW untuk meninggalkan posisi yang sangat strategis di sebuah bukit, apapun yang terjadi. Sebanyak 70 sahabat termasuk paman Nabi yaitu Hamzah bin Abdul Muthallib RA syahid dan Rasulullah SAW sendiri sempat dikabarkan terbunuh. Para syuhada ini dimakamkan di Uhud ini pula. Pada saat ziarah ke pemakaman ini saya mencium bau wangi sebagaimana tercium di makam Khadijah RA.

Di Uhud ini banyak sekali orang yang berjualan. Untuk kurma bahkan kami mendapati harganya lebih murah daripada di perkebunan kurma yang kami singgahi sebelumnya. Entah karena beda kualitas atau gimana karena gak ngerti juga soal kualitas kurma. Secara kasat mata dan rasa sepertinya sama aja sih. Di perkebunan kurma harga kurma Ajwa SR100/kg, di Uhud bisa dibeli dengan SR50-SR70. Ya mungkin beda harga toko dan kaki lima kali ya :)


Foto sebagian Jabal Uhud dan makam syuhada Uhud diambil dari bukit pemanah/ar-Rumah.

Makam Syuhada Uhud

Bukit ar-Rumah/Pemanah



Masjid Qiblatayn berarti masjid yang memiliki 2 arah kiblat, yakni ke arah Baytul Maqdis di Palestina dan ke arah Baitullah di Makkah. Sebelumnya menghadap Baitullah kaum muslimin memang disyariatkan untuk shalat menghadap Baytul Maqdis. 
Pada suatu saat Rasulullah shalat zuhur berjamaah dengan para sahabat. Setelah selesai 2 rakaat pertama turunlah ayat yang memerintahkan agar kiblat menghadap ke Baitullah di Makkah, maka Rasulullah SAW pun menyelesaikan 2 rakaat terakhir dengan menghadap ke Makkah. Kejadian bersejarah itu terjadi di masjid Qiblatayn ini.


Masjid Qiblatayn

Berhubung waktu zhuhur semakin mendekat maka citytour pertama kami pun diakhiri untuk bersegera shalat zhuhur berjamaah di Masjid Nabawi.


Ba'da zhuhur alhamdulillah setelah sebelumnya janjian kopdar via BBM saya dipertemukan Allah dengan seorang kawan, Dini Haiti Zulfany, anggota grup BB KBBI dan suami. Beliau berdua berdomisili di Kalimantan Barat dan karena saya orang Kalsel, maka ini kopdar warga borneo di kota Nabi, alhamdulillah. Qadarullah pertemuan ini tidak bisa lama karena beliau berdua harus segera bersiap-siap meninggalkan Madinah untuk berumrah di Makkah. Cerita detailnya bisa dibaca di blog beliau.

Hari ke-10: Rabu, 30 Januari 2013
City tour lagi! Kali ini tujuannya ke Masjid Fatah/Masjid Khandaq/Masjid /Sab'ah/Khamsah dan ke percetakan Mushaf Al-Qur'an/Holy Quran Printing Complex.

Masjid Fatah letaknya tak jauh dari Masjid Nabawi, hanya sekitar 2,5 km jaraknya. Terletak di Jl. Abu Bakar. Masjid dan benteng Khandaq adalah salah satu peninggalan Nabi Muhammad SAW di Madinah. Khandaq berarti parit. Dalam sejarah Islam, Khandaq adalah peristiwa penggalian parit untuk benteng pertahanan melawan kaum kafir Quraisy bersama sekutu-sekutunya yang mengepung Madinah.

Dinamakan perang Khandaq karena umat Islam menjadikan parit untuk benteng pertahanan melawan musuh. Parit yang dalam itu ternyata mampu menahan serangan kaum Quraisy dan sekutu mereka yang jumlahnya lebih banyak dibanding umat muslim waktu itu (4.000 berbanding 10.000).

Dalam pembuatan parit ini, Rasulullah saw juga turut serta. Bahkan, setiap 10 orang kaum Muslimin harus bisa menyelesaikan penggalian parit sepanjang 40 meter. Menurut Syauqi Abu Khalil dalam bukunya Atlas Hadits, dalam penggalian itu, kaum Muslimin berhasil menggali parit sepanjang 5.544 meter dengan lebar 4,6 meter dan kedalaman parit mencapai 3,2 meter. Penggalian itu membutuhkan waktu sekitar 10 hari. Sementara itu, dalam Ensiklopedi Islam disebutkan, lama penggalian itu memakan waktu sekitar 6 hari.

Untuk mengenang dan menghormati jasa pejuang dan syuhada Khandaq, kaum Muslim membangun masjid di lokasi yang menjadi tempat pertahanan para sahabat. Ada tujuh buah masjid yang dibangun. Karena itu kemudian dinamakan Masjid Tujuh (Sabah), yakni Masjid Salman, Masjid Abu Bakar, Masjid Umar, Masjid Utsman, Masjid Ali, Masjid Fatimah, dan Masjid Fatah.

Saat ini, parit yang terletak di bagian selatan Madinah sudah hilang. Bekas masjid tujuh itu masih ada, namun sudah ditutup dan tidak digunakan. Hanya masjid Fatah saja yang masih bisa digunakan untuk salat. Oleh karena kepentingan perluasan kawasan kota Madinah, dua buah masjid yakni Masjid Abu Bakar dan Masjid Utsman tergusur (sekarang menjadi areal parkir peziarah). Saat ini yang masih tersisa dan bisa kita lihat langsung hanya lima buah. Kelima masjid itu kemudian dikenal dengan nama Masjid Khamsah (Masjid Lima).
 
Masjid Fatah
Di lokasi ini Rasulullah bermunajat selama 3 hari 3 malam dalam perang Ahzab/Khandaq
Masjid Salman al-Farisi (inisiator penggalian parit)
Setelah ziarah dan shalat di Masjid Fatah kami pun meluncur ke Pusat Percetakan Mushaf AlQur'an. Di sini hanya laki-laki yang boleh masuk. Masuknya juga antre sejak di depan gerbang pos penjagaan. Setiap pengunjung diberi 1 buah mushaf. Saya mengambil yang ukuran tanggung biar gak ribet bawanya, sedangkan anakku Muhammad diberi mushaf Juz 'Amma :)


Selesai dari Holy Quran Printing Complex kami pun kembali ke hotel sebelum zhuhur. Memang city tour/ziarah di Tanah Suci ini sedapat mungkin tidak bertabrakan dengan waktu shalat berjamaah. Tentu saja rugi kalau ketinggalan shalat berjamaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi mengingat keutamaan shalat di kedua masjid suci tersebut.


Hari ke-11: Kamis, 31 Januari 2013
Ba'da shubuh kami berziarah ke pemakaman Baqi' yang bersebelahan dengan Masjid Nabawi. Di Baqi' ini sebagaimana lazimnya di Arab Saudi jamaah perempuan tidak diperkenankan masuk, jadi hanya sampai batas pagar saja. Pemakaman ini juga ditutup sekitar jam 8 pagi.

Di pemakaman ini sejumlah besar keluarga dan sahabat Rasulullah SAW juga tokok-tokoh penting dalam Islam dimakamkan. Beberapa makam yang kami datangi di antaranya makam Utsman bin Affan RA, Halimah as-Sa'diyah (ibu susu Rasulullah SAW), Ibrahim bin Rasulullah, Ja'far bin Abi Thalib, Syaikh Samman al-Madani dll.




Pemakaman Baqi' dengan background Masjid Nabawi

Makam Utsman bin Affan RA

Hari ke-12: Jumat, 1 Februari 2013
Hari terakhir kami di Madinah. Setelah sarapan kami melaksanakan ziarah perpisahan ke makam Baginda Rasulullah SAW. Sedih tentunya karena harus berpisah secara zahir dengan beliau. Tak cukup kalimat untuk menggambarkan perpisahan ini. Semoga kelak kita semua dipertemukan dengan Beliau SAW, meminum air di Telaga Kautsar dan mendapat syafaat Beliau SAW. Aamiiiin yaa Rabb.

Alhamdulillah dalam perjalanan umrah kali ini kami diizinkan Allah untuk shalat Jum'at di kedua masjid suci, yakni Masjid al-Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Ba'da shalat Jum'at kami pun bersiap-siap untuk berangkat ke Jeddah. 

15.00: Kami pun bertolak meninggalkan kota Nabi, tanah yang mendapat kehormatan untuk menjadi kubur Beliau SAW dan para sahabat serta ulama penerus mereka. Air mata pun tak kuasa ditahan saat meninggalkan kota yang diberkahi ini. Ya Allah, izinkan kami kembali ke sini sebagai jamaah haji dan umrah kelak.

20.30: Masuk Jeddah. Sebuah kota internasional yang gemerlap di kala malam. Kami menginap di Hotel Trident Jeddah.


Hari ke-13: Sabtu, 2 Februari 2013
09.30-12.00: Dengan diantar-jemput bus yang disediakan hotel kami pergi ke Corniche/Qornisy, sebuah tempat perbelanjaan terkenal di Jeddah. Tak terlalu istimewa sebenarnya, namun harga yang ditawarkan terutama barang elektronik relatif lebih murah daripada di Indonesia. Biasanya para jamaah memuaskan diri belanja karena ini kesempatan terakhir untuk berbelanja di Saudi sebelum pulang ke tanah air.

14.00: Setelah istirahat, makan siang dan shalat di hotel kami pun checkout. Tujuan selanjutnya adalah Masjid Rahmah di tepi pantai Laut Merah. Masjid ini juga terkenal sebagai Masjid Terapung. Sebenarnya bukan terapung sih, tapi berdiri di atas tiang-tiang pancang di atas air laut. Kami menghabiskan waktu berekreasi sampai sunset/maghrib.

foto kami sekeluarga dengan background Masjid Rahmah, Laut Merah-Jeddah

sunset di Laut Merah, Jeddah
 
18.00: Menuju destinasi terakhir di Jeddah, yakni King Abdul Aziz International Airport untuk bertolak kembali ke tanah air.

Hari ke-14: Minggu, 3 Februari 1013
00.00: Panggilan boarding Garuda Indonesia GA983 yang akan membawa kami ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Karena kendala teknis keterlambatan bagasi baru sekitar pukul 01.30 pesawat kami  take-off.

14.30 WIB: Touchdown Soekarno-Hatta. Alhamdulillah. Mengingat masih sekitar 3,5 jam sebelum boarding ke Banjarmasin kami pun memutuskan untuk berpisah dengan rombongan dan istirahat (juga mandi) di BRI Transfer Lounge. Kasian juga sama anak-anak yang capek setelah perjalanan panjang 8 jam 50 menit. Alhamdulillah mereka berdua sama sekali gak rewel di pesawat baik berangkat maupun pulang.

18.30 WIB: Off to Syamsudinnoor International Airport Banjarmasin (Banjarbaru tepatnya).
21.15 WITA: Smooth touchdown walau kondisi hujan. Setelah perjalanan 1 jam 45 menit sampailah kami di bandara kampung halaman. Tinggal -+ 5 km saja lagi jarak dari rumah.  Isteri, anak-anak, bibi dan ART duluan pulang, sedangkan saya harus mengurus bagasi dulu.
22.30 WITA: Alhamdulillah akhirnya kembali ke rumah dengan selamat tak kurang suatu apa. Setelah selamatan kecil bersama keluarga terdekat, acara pun berlanjut kepada asyik bercerita dan bagi-bagi oleh-oleh tentunya :D

Akhirul kalam
Sungguh suatu karunia yang besar dari Allah karena kami sekeluarga telah diizinkan bertamu di rumah-Nya dan bertamu di rumah Rasulullah SAW. Dimudahkan-Nya pula segala segala urusan kami di sana, termasuk betapa mudahnya membawa anak-anak kami yang masih kecil setelah cukup berat saat membayangkannya bagaimana dan bagaimana. Tak cukup lidah memuji dan hati bersyukur. Sungguh tamu Allah biarlah Allah yang mengurusnya, Dia-lah sebaik-baik tuan rumah.

Semoga segala doa kami di sana diijabah, semoga segala kekurangan ibadah dan adab kami di sana ditutupi dan diampuni dan semoga bukan menjadi yang terakhir kalinya. Bila kali ini adalah ibadah umrah sekeluarga, maka semoga tak lama lagi diizinkan untuk beribadah haji dan umrah sekeluarga bersama orangtua dan saudara-saudara. Semoga pula setiap muslim yang berniat untuk ke sana disampaikan hajatnya. Aamiiiin ya Rabb al-'aalamiin.

Alhamdulillah. Semoga bermanfaat dan semoga Allah ridha. Wassalam.

Next: Tips Umrah
Prev: Our Umra Journey (Part 2)
Read more

Our Umra Jorney (part 2)

Permisi lanjutin ya.. Bismillah.

Hari ke-4: Kamis, 24 Januari 2013.
07.30: Berangkat ziarah ke Jabal Tsur, Arafah, Muzdalifah, Mina dan terakhir mengambil miqat untuk umrah ke-2 di Ja'ranah, sekitar 20 km dari Makkah. Rombongan kami kali ini naik 4 buah bus. Mana kuat jalan kaki. Hehehe..


Sampai di Jabal Tsur terasa haru hati kami mengingat perjuangan Rasulullah menegakkan dakwah dengan berhijrah sambil dikejar musyriqin Makkah. Jabal Tsur merupakan gunung batu yang cukup tinggi (lihat foto) dimana di sana Beliau SAW bersembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar RA dengan suplai logistik dari Asma' binti Abu Bakar RA. Gua itu sendiri cuma muat untuk 2-3 orang dan terletak hampir di puncak gunung. Kawan-kawan insya Allah tentu sudah tahu detail kisah yang sangat terkenal ini kan? :)



nampang dengan background Jabal Tsur

Ziarah berlanjut ke Arafah. Tentu saja Jabal Rahmah jadi favorit bagi banyak jamaah. Di bukit ini Adam AS dan Hawa berjumpa setelah terpisah 40 tahun pasca dikeluarkannya beliau berdua dari surga. Menurut sebagian riwayat Nabi Adam AS diturunkan di India dan bunda Hawa diturunkan di Jeddah (yang berarti Datuk/Nenek). Menurut guru kami (dan beliau tunjukkan tempatnya), pertemuan itu bukan di puncak bukit yang ada tiang putih itu, tapi di kaki bukit, tak jauh dari tempat Rasulullah SAW wuquf saat Haji Wida'. Kami pun dilarang beliau untuk shalat di sana karena tidak ada sunnahnya dan tidak ada fadhilahnya.

Jabal Rahmah


lokasi bekas tempat Rasulullah wuquf saat Haji Wida'


Kaki bukit dimana meeting point Adam dan Hawa.

suatu sudut Arafah
Masjid Namirah di Arafah. Diriwayatkan Rasulullah pernah shalat zhuhur-ashar di sini saat wuquf.
Menurut guru kami, di bukit ini Abrahah dan pasukan bergajahnya dihancurkan pasukan burung ababil.
Selepas ziarah kami pun menuju Ja'ranah untuk mengambil miqat umrah ke-2. Labbayk Allahumma labbayk...
Dalam perjalanan dari Ja'ranah menuju Makkah kami melewati Jabal Nur. Di sinilah terdapat Gua Hira yang sangat terkenal bagi ummat Islam itu. Gua tempat Rasulullah SAW ber-tahanus dan akhirnya mendapat wahyu pertama di sana.

puncak Jabal Nur
Setelah sampai di hotel dan naruh barang, kami langsung balik kanan untuk umrah di Masjid al-Haram. Kali ini kami sudah pinjam kursi roda inventaris Masjid al-Haram buat kedua anak kami. Satu berdua cukuplah. Sangat membantu untuk pelaksanaan thawaf dan sa'i. Alhamdulillah lancar. Tapi kali ini enggak tahalul di Marwah seperti yang pertama. Tahallul di barbershop di depan hotel, cukur plontos licin pake pisau cukur dengan biaya SR10.

selesai sa'i sebelum tahalul.

Ba'da Ashar majelis kami mengadakan pengajian dan taushiyah di hotel dipimpin langsung guru kami.

Sekitar pukul 22.30 malam Jumat itu saya kembali ke Masjid al-Haram untuk melaksanakan beberapa ritual beribadah. Selain berhasil shalat di Hijir Ismail, Maqam Ibrahim, berdoa di Multazam dan mencium Hajaral Aswad, malam itu juga saya kehilangan dompet yang alhamdulillah bisa kembali. Insya Allah ada posting khusus menceritakan ini :)



Hari ke-5: Jumat, 25 Januari 2013
Hari ini tidak ada itenerary khusus kecuali shalat berjamaah yang paling afdhal: Shalat fardhu Jum'at di Masjid al-Haram. Alhamdulillah diizinkan Allah untuk melaksanakannya.
Gak seperti biasanya di kampung, kali ini saya sudah on i'tikaf di masjid sejak sekitar pukul 10 pagi. Jam segitu juga udah gak bisa di pelataran tempat thawaf di sekeliling Baitullah, tapi masih bisa di dalam masjid. Memang di Haram biasanya lebih padat sejak malam Jumat sampai Sabtu sore dimana di warga negara-negara Arab sedang weekend dan banyak di antara mereka memanfaatkannya dengan melaksanakan ibadah umrah.
Nah, ada seorang kawan, Aji Teguh Prihatno, yang bekerja sebagai ekspatriat di Riyadh juga umrah sekeluarga bersama isteri dan sepasang anak beliau yang masih balita dan bayi. Sejak saya masih di tanah air kami sudah janjian ketemuan di Makkah. Alhamdulillah dipertemukan Allah juga kami di sana ba'da shalat maghrib di Masjid al-Haram. Ngobrol di Zamzam Tower sembari menunggu masuknya waktu Isya.Next time better, insya Allah.. :)

Hari ke-6: Sabtu, 26 Januari 2013
Sebenarnya pagi ini rombongan dijadualkan ziarah ke peternakan unta di daerah Hudaibiyah, ke situs ex tempat Rasulullah membai'at para sahabat dalam Bai'at ar-Ridhwan dan tempat perundingan Hudaibiyah dengan kaum Quraisy dilaksanakan. Di sana juga kami direncanakan mengambil miqat di Hudaibiyah untuk umrah ke-3, lalu mengunjungi Museum Arsitektural Masjid Haramayn (2 masjid suci: Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi). Namun terpaksa dimundurkan ke pukul 14.00 karena pihak museum baru bisa menerima kami pukul 16.00.
Melihat itenerary seperti itu berarti umrah baru bisa dilaksanakan menjelang maghrib dan malam baru selesai. Karena mengawatirkan anak-anak kelelahan kami sekeluarga memutuskan untuk umrah sendiri di luar jadual grup pada pagi itu juga dan nanti sekedar ikut ziarah bersama rombongan tanpa mengambil miqat.

07.30: Kami berangkat ke Tan'im untuk mengambil miqat di sana. Jaraknya sekitar 7 km dari Makkah. Setelah nego dengan sopir taksi sedan kami sepakat carter dengan tarif SR50 untuk pergi-pulang. Rada mahal sebenarnya karena kalo malam bisa tembus SR30-SR40 saja, namun bila pagi biasanya memang banyak yang  mau ke sana. Biasalah berlaku hukum supply and demand :D
Sebelum zhuhur alhamdulillah umrah ke-3 kami selesai ditunaikan.


14.30: Rombongan kami berangkat ke Hudaibiyah. Tujuan pertama adalah peternakan unta. Di sini dapat dibeli susu unta segar yang langsung diperah oleh peternak seharga SR5 untuk kemasan botol plastik ukuran 600ml.



Setelah selesai di peternakan unta kami pun berangkat ke tempat dimana dulu Rasulullah membai'at para shabat dalam Bai'at ar-Ridhwan dan mengadakan perundingan dengan kaum musyrik Makkah yang kesepakatan kedua pihak terkenal dengan Perjanjian Hudaibiyah. Redaksi perjanjian ini sepintas sangat merugikan kaum Muslimin, bahkan Umar bin Khaththab RA pun mempertanyakan hal ini kepada Rasulullah SAW, namun Beliau SAW meyakinkan para sahabat bahwa ini sudah petunjuk Allah. Terbukti kemudian hari ternyata kaum Quraisy yang malah meminta perjanjian ini dicabut karena sangat merugikan mereka. Kawan-kawan insya Allah tentu sudah tahu cerita ini, kalo pun ada yang belum tau bisa tanya sama guru, teman, buku atau mbah google deh. Catatan saya di sini sekedar menceritakan perjalanan kami saja sebagai titik beratnya. Hehehe.. Afwan.

ex situs Bai'atuturridhwan dan Perjanjian Hudaibiyah



Perjalanan pun berlanjut ke Exhibition of Two Holy Mosques Architecture. Di sini dipamerkan berbagai foto, maket, dan benda-benda yang berhubungan dengan Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi semisal pintu Ka'bah, kiswah (kain penutup Ka'bah), tiang Ka'bah, talang emas Ka'bah, pintu Masjid al-Haram dan Nabawi, pagar dan kerekan air sumur zamzam yang terbuat dari perunggu, gerbang Raudhah, replika Mushaf Utsman dll. Di sini boleh bawa kamera, namun tidak diperbolehkan membawa makanan-minuman serta menyentuh barang koleksi museum. Kalo haus sudah disediakan air Zamzam nan dingin dan segar.
Di sini juga tidak bisa didatangi secara mendadak melainkan harus mengajukan surat permohonan berkunjung dahulu baru dikabari apabila sudah disetujui.

Sebenarnya banyak foto koleksi museum yang ingin saya bagikan di sini, namun saya batasi karena tak ingin blog terlalu berat untuk dibuka.

Selesai dari dari museum jamaah pun kembali ke Makkah. Kami beristirahat di hotel dan kawan-kawan jamaah yang lain ke Masjidil Haram melaksanakan ibadah umrah.

Hari ke-7: Minggu, 27 Januari 2013
Hari terakhir kami di Makkah. Hari yang sedih karena harus berpisah dengan Baitullah. Jam 10 pagi kami melaksanakan thawaf wida' yang merupakan thawaf wajib. Tak tertahankan lagi air mata saat berpisah dengan Baitullah. Tak ingin mata yang basah ini berpaling darinya, saya pun sedapat mungkin berjalan mundur sambil melambaikan tangan serta berdoa "Ya Allah, jangan dijadikan ini yang terakhir bagi kami, namun bila Engkau ditakdirkan ini sebagai yang terakhir maka gantilah dengan Jannah". Duh, berkaca-kaca lagi mata saya saat menuliskan ini.

15.00: Kami berangkat menuju Madinah, kota Nabi, menunaikan kerinduan akan Sang Junjungan Rasulullah Muhammad SAW. Jarak perjalanan kurang lebih 490 km dengan waktu tempuh sekitar 5 jam termasuk berhenti sebentar di rest area. Jalanan lebar, mulus dan tanpa macet. Laju bus yang 120 km/jam pun tak terasa kencang. Kapan ya di Indonesia bisa gini?

20.00: Sampai di Madinah. Woww, di temperatur udara di Madinah sangat berbeda dengan Makkah. Saat itu suhu berkisar di 11 derajat Celcius dan sangat berangin. Langsung masuk Hotel Classy Andalus Suites. Hotel ini amat sangat dekat dengan Masjid Nabawi, kira-kira 30 m dan hanya beberapa langkah sudah sampai ke halaman masjid. Alhamdulillah.
Foto Masjid Nabawi diambil dari halaman hotel kami menginap.

Hotel ini mempunyai konsep seperti apartemen. Suites kami memiliki 2 kamar, living room, 2 kamar mandi dan dapur. Kami menempati Suite 6 kamar 412-413 yang mungkin di sebagian besar hotel dan bangunan di dunia tidak ada memakai angka-angka tahayul yang dianggap sial ini. Bayangin aja angka 6, trus lantai 4 kamar no. 13. Hahaha.. Gak ngaruh!

Next: Our Umra Journey (Part 3)
Prev: Our Umra Journey (Part 1)
Read more

Our Umra Journey (Part 1)

Umrah bersama keluarga kecilku, sebuah impian yang jadi nyata berkat izin Allah.
Setelah berbulan-bulan penantian alhamdulillah bisa berangkat sesuai jadual pada tanggal 21 Januari 2013. Saya berangkat bersama isteri tercinta, sepasang malaikat kecil kami: Muhammad (6 tahun) dan Miftahurrahmah (20 bulan), bibi saya dan asisten rumah tangga kami. Kami berangkat bersama rombongan Majelis Raudhatul Ghanna An-Nabawiyyah, Kandangan - Kalsel dipimpin dan dibimbing Gurunda Syaikh Syairazie Pandi. Rombongan kami ini sebanyak 160 orang.

Hari Ke-1: Senin, 21 Januari 2013

09.25 WITA: Bismillah. Pesawat B737-800 Garuda Indonesia GA533 terbang membawa kami dari Bandara Syamsudinnoor Banjarmasin (Banjarbaru tepatnya).

10.10 WIB: Tiba di Soekarno-Hatta International Airport "Jakarta" alias Cengkareng, Banten (pake tanda kutip biar orang Banten gak marah. Hehehe..)

17.45 WIB: Pesawat B747-400 Garuda Indonesia GA982 membawa kami dalam durasi perjalanan 9 jam 50 menit ke Jeddah.

22.35 (+3GMT): Alhamdulillah touchdown di King Abdul Aziz International Airport, Jeddah.
Setelah beres urusan imigrasi, di bandara sini kami mandi sunnah umrah, ganti pakaian ihram dan pasang niat/ngambil miqat untuk ibadah umrah.

Hari ke-2: Selasa, 22 Januari 2013
01.30: Keluar bandara dan menuju Makkah al-Mukarramah. Udah mulai baca talbiyah: Labbayk Allahumma labbayk.. ah, unexplainable feeling.

02.30: Setelah perjalanan pake bus selama sekitar 1 jam, masuklah kami di kota Makkah, kota paling suci bagi ummat Islam. Kota yang paling dirindukan kaum beriman, insya Allah.
Suhu udara di Makkah saat itu mirip dengan di tanah air, berkisar 16-30C. Kami menginap di Hotel Al-Banona, Ajyad. Bersebelahan dengan Hotel Le Meridien, kurang lebih 200m dari Masjid al-Haram alias deket banget. Alhamdulillah. Hotel ini milik keturunan orang Indonesia juga. Saat ngobrol (pake bahasa Indonesia), beliau bilang bahwa dia udah keturunan ke-8 yang berdomisili di Makkah

03.30:  Setelah beres pembagian kamar kami berangkat ke Masjid al-Haram untuk thawaf dan sa'i (Oh ya, rukun umrah itu cuma niat/miqat, thawaf, sa'i dan tahallul/bercukur). 
Baru aja nginjak halaman Masjidil Haram hati ini udah gak karuan karena bahagia, terharu, dan gak sabar pengen liat Baitullah.  Bener aja, baru liat salah satu sudut Baitullah dari jauh, nangis gak bisa ditahan (nulis ini juga sambil berkaca-kaca neh. Hikkss..).

 Nampang dulu setelah selesai thawaf wajib dan shalat sunnah thawaf. Mata sembab gegara nangis.

Selama thawaf, air mata juga mengalir lancar. Gak pake malu, karena ini pemandangan jamak, di sinilah tangisan membantu kekhusyu'an, merasa tiada berjarak dengan Allah Dzul Jalal wal Ikram.
Setelah thawaf kami pun bergegas melaksanakan sa'i mengingat iqamah shalat subuh sekitar 20 menit lagi. Bener aja, baru selesai 2 dari 7 kali lintasan sa'i  maka iqamah subuh pun berkumandang. Berhenti dulu untuk shalat subuh sebelum lanjut menyelesaikan kekurangannya. Setelah finish sa'i di bukit Marwah, kami pun melaksanakan tahallul/bercukur. 

Alhamdulillah ibadah umrah pertama pun selesai. Bahagia banget tentunya.

Kami pun kembali ke hotel dan beristirahat. Baru kerasa capeknya setelah perjalanan panjang dan cuma tidur sebentar di pesawat (itupun gak nyenyak). Pada hari ke-2 ini gak ada itenerary khusus alias acara bebas setelah melaksanakan umrah. Terserah jamaah mau istirahat atau beribadah di Masjid. Setelah istirahat sebentar di hotel sekitar waktu dhuha saya kembali ke Masjid al-Haram untuk thawaf sunnah, alhamdulillah diizinkan Allah untuk mencium Hajar al-Aswad.


Hari ke-3: Rabu, 23 Januari 2013
07.30: Hari ini kami dijadualkan untuk berziarah ke tempat-tempat yang memiliki sejarah di sekitar Masjid al-Haram.  Perjalanan ziarah dipimpin langsung guru kami yang sempat diizinkan Allah untuk menuntut ilmu agama selama 18 tahun di Makkah. Kami ditunjukkan gedung bertingkat di depan Masjid al-Haram yang tadinya merupakan rumah Abu Bakr RA. 
Setelah itu kami ke Darul Arqam, rumah Arqam RA dimana "madrasah" Rasulullah SAW mengajar para As-Sabiquun al-Awwaliin secara sembunyi-sembunyi pada periode pertama dakwah Beliau SAW. Di sini pula Umar bin Kahththab RA mengucap syahadat. Sekarang situs ini sudah tidak ada lagi dan menjadi bagian perluasan Masjid al-Haram di dekat Bukit Shafa.

ex situs Daarul Arqaam

Di seberang Darul Arqam ini ada sebuah bukit yang di sanalah tadinya Nabi Ibrahim AS menyeru manusia untuk berhaji/umrah setelah selesai membangun kembali Ka'bah Baitullah bersama putera beliau, Nabi Ismail AS. Sekarang di atasnya berdiri istana raja.

Di sebelah kanan gambar ini bukit tempat Nabi Ibrahim menyeru.

Ziarah berlanjut ke rumah kelahiran Baginda Rasulullah SAW. Bangunan asli tentu saja sudah tidak ada lagi. Sekarang berfungsi sebagai perpustakaan. Beberapa puluh meter dari sini ada terowongan yang tadinya di sana perkampungan Bani Hasyim, klan Rasulullah SAW.

Rumah kelahiran Rasulullah SAW yang telah berubah bentuk dan fungsi.
Terowongan ini tadinya perkampungan Bani Hasyim..

Nah, sekarang sampailah di ex situs rumah Rasulullah SAW dan Ummulmu'min Khadijah RA. Sekarang sudah tidak ada bekasnya sama sekali kecuali berupa lantai marmer yang menggunduk sedikit lebih tinggi daripada lantai lainnya. Sekarang termasuk dalam areal halaman belakang Masjid al-Haram.
ziarah di lokasi rumah Rasulullah SAW dan Siti Khadijah RA

Beberapa meter dari rumah Rasulullah SAW ada sebuah jalan kecil yang biasa di kampung kami terkenal dengan sebutan Gang Batu. Syahdan di sana ada sebongkah batu yang selalu mengucapkan salam "assalamu 'alayka ya Rasulullah" setiap Rasulullah SAW melintasinya. Wallahu a'lam. Sekarang menjadi jalan akses menuju toilet dan tempat wudhu.

Gang Batu

Kamipun terus berjalan dan sampailah di lokasi yang tadinya berdiri sebuah masjid yang terkenal dengan sebutan Masjid Kucing atau Masjid Bendera. Sekarang masjid ini sudah tidak ada lagi karena dirubuhkan sehubungan dengan perluasan Masjid al-Haram. 
Disebut masjid kucing karena banyak kucing di sana dan disebut masjid bendera karena di sanalah Rasulullah menancapkan panji saat Futuh/Penaklukan Makkah sesaat sebelum memasuki Masjid al-Haram dan menghancurkan 360 berhala di sekeliling Ka'bah Baitullah.

lokasi ex Masjid Kucing/Bendera

Ziarah dilanjutkan ke arah luar Masjid al-Haram. Sampailah kami di Masjid Jin. Diriwayatkan di sini Rasulullah SAW pernah mengajarkan Islam kepada bangsa jin. Di sini pula turun QS. Jin. Di seberang masjid ini ada pula Masjid Pohon, diriwayatkan di sana ada sebatang pohon kurma yang bersyahadat di hadapan Rasulullah SAW. Wallahu a'lam.

Masjid Jin

Masjid Pohon.

Perjalanan diteruskan ke Pekuburan Jannah al-Ma'la, biasa juga disebut dengan Ma'la saja. Jaraknya kurang lebih 700m dari Masjid al-Haram. Ma'la ini pekuburan penduduk Makkah sezak zaman Rasulullah. Di antara yang bermakam di sini adalah Khadijah RA, Asma binti Abu Bakar, Abdullah bin Zubayr RA, Imam Nawawi, Imam Ramli dll. Di sini yang diperkenankan masuk hanya jamaah laki-laki. Di makam Khadijah RA kami mencium wangi, yang kata guru kami hal itu sudah begitu adanya sejak zaman dahulu dan tidak pernah diberi minyak wangi.

Makam Khadijah RA dari balik pagar.

sebagian dari pekuburan Ma'la.

Gerbang Ma'la
Setelah rangkaian perjalanan ziarah hari itu kami kembali ke hotel. Tapi udah gak kuat lagi jalan kaki, naik taksi Innova borongan SR20 yang kami muati 10 orang. Hehehe.
Alhamdulillah masih sempat untuk shalat zhuhur berjamaah di Masjid al-Haram.

Ba'da Isya kami mengadakan peringatan Maulid Nabi SAW di hotel. Saat itu bertepatan dengan malam tanggal 12 Rabi'ul Awwal 1434H. Taushiyah disampaikan oleh Habib Muhammad al-Muhdhar al-Makky yang diterjemahkan oleh guru kami.




Read more