Sabtu, 09 Maret 2013

Bahagia itu sederhana?

Saya menulis paragraf awal posting ini sembari mendengar riuh anak-anak Raudhatul Athfal asuhan isteri saya yang sedang senam pagi. Kegiatan saya hampir setiap pagi memang di sini. Ada bahagia tersendiri yang saya dapati setiap kali di sini, mungkin karena energi dan aura positif yang terpancar dari insan-insan kecil tanpa dosa ini.

Saya meyakini suasana positif akan membawa perasaan positif pula. Keceriaan anak-anak yang ringan tanpa beban, tulus tanpa akal bulus, dan polos tanpa poles "mengajak" sekelilingnya untuk lebih gembira dan bersemangat. Mungkin tepat kalimat yang cukup populer saat ini: "bahagia itu sederhana".

Ya, benarlah bahagia mereka sederhana. Benarlah pula kita yang dewasa lebih rumit untuk berbahagia dengan hidup yang mustahil tanpa problema dan gundah gulana. Ada hal yang penting dalam kesederhanaan mereka yang kadang kita dewasa terlupa: kalbu mereka bersih tanpa angkara, akal mereka belum sempurna tanpa ego yang bersifat durjana. Itulah kalbu yang damai, qalbun salim. Kalbu yang diterangi Nur Ilahi tanpa noktah dosa.

Dalam perspektif tasawuf dalam Islam, segala yang datang dari Allah adalah kebaikan. Kebaikan dari Allah sejatinya adalah kebahagian, namun interaksi frekuensi manusia dan frekuensi Allah terkadang gagal ber-resonansi secara sempurna bahkan gagal sama sekali dikarenakan interferensi dosa dan jamming dari syaitan. Bias dan tak sesuai asal. Tangkapan batin dan indra menjadi tidak selayaknya. Bukan karena frekuensi Allah yang tidak digdaya, tapi kelemahan manusia dalam memahami hikmah yang disimpan Allah di relung terdalam suatu peristiwa. Bukan benderang matahari yang tiada, tapi manusia yang menutup mata.

Tentu tidaklah adil menyederhanakan komparasi kebahagian usia yang teramat belia dan dewasa. Namun ada yang bisa dipetik bahwa bahagia itu asalnya di dalam hati. Faktor eksternal yang sejatinya netral akan memancing sikap, kedewasaan usia, akal dan kalbu untuk bereaksi, dimana syukur atau sabar adalah sebuah penyikapan atas faktor eksternal yang menihilkan ego, membuat persepsi atas situasi dan kondisi menjadi positif. Tiada sombong kala bersyukur, tiada ratapan kepada dunia di kala bersabar.

Sulit? Ya, teramat sulit malah. Saya pun masih teramat jauh dari tataran ideal ini. Mencong sana mencong sini, melenceng sana melenceng sini. Saya menuliskan ini juga mungkin karena faktor eksternal sedang dapat dikatakan nol, dapat berpikir tanpa gundah, alias mumpung masih "waras".

Jadi mohon maafkan saya yang lancang bertutur seakan diri ini adalah si qalbun salim dan luhur budi. Bila ada benarnya tentu berasal dari Allah, bila ada salahnya maka niscaya dari si dhaif dan faqir ini. Teriring doa semoga kita semua selalu dalam bimbingan taufik dan hidayah Allah.

Semoga bermanfaat dan Allah ridha. Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar