Saya menulis paragraf awal posting ini sembari mendengar riuh anak-anak Raudhatul Athfal
asuhan isteri saya yang sedang senam pagi. Kegiatan saya hampir setiap
pagi memang di sini. Ada bahagia tersendiri yang saya dapati setiap kali
di sini, mungkin karena energi dan aura positif yang terpancar dari
insan-insan kecil tanpa dosa ini.
Saya meyakini suasana positif akan membawa perasaan positif pula.
Keceriaan anak-anak yang ringan tanpa beban, tulus tanpa akal bulus, dan
polos tanpa poles "mengajak" sekelilingnya untuk lebih gembira dan
bersemangat. Mungkin tepat kalimat yang cukup populer saat ini: "bahagia itu sederhana".
Ya, benarlah bahagia mereka sederhana. Benarlah pula kita yang dewasa
lebih rumit untuk berbahagia dengan hidup yang mustahil tanpa problema
dan gundah gulana. Ada hal yang penting dalam kesederhanaan mereka yang
kadang kita dewasa terlupa: kalbu mereka bersih tanpa angkara, akal
mereka belum sempurna tanpa ego yang bersifat durjana. Itulah kalbu yang
damai, qalbun salim. Kalbu yang diterangi Nur Ilahi tanpa noktah dosa.
Dalam perspektif tasawuf dalam Islam, segala yang datang dari Allah
adalah kebaikan. Kebaikan dari Allah sejatinya adalah kebahagian, namun
interaksi frekuensi manusia dan frekuensi Allah terkadang gagal ber-resonansi secara sempurna bahkan gagal sama sekali dikarenakan interferensi dosa dan jamming dari syaitan. Bias dan tak sesuai asal. Tangkapan batin dan indra
menjadi tidak selayaknya. Bukan karena frekuensi Allah yang tidak
digdaya, tapi kelemahan manusia dalam memahami hikmah yang disimpan
Allah di relung terdalam suatu peristiwa. Bukan benderang matahari yang tiada, tapi manusia yang menutup mata.
Tentu tidaklah adil menyederhanakan komparasi kebahagian usia yang teramat
belia dan dewasa. Namun ada yang bisa dipetik bahwa bahagia itu asalnya
di dalam hati. Faktor eksternal yang sejatinya netral akan memancing
sikap, kedewasaan usia, akal dan kalbu untuk bereaksi, dimana syukur
atau sabar adalah sebuah penyikapan atas faktor eksternal yang
menihilkan ego, membuat persepsi atas situasi dan kondisi menjadi
positif. Tiada sombong kala bersyukur, tiada ratapan kepada dunia di
kala bersabar.
Sulit? Ya, teramat sulit malah. Saya pun masih teramat jauh dari tataran
ideal ini. Mencong sana mencong sini, melenceng sana melenceng sini.
Saya menuliskan ini juga mungkin karena faktor eksternal sedang dapat
dikatakan nol, dapat berpikir tanpa gundah, alias mumpung masih "waras".
Jadi mohon maafkan saya yang lancang bertutur seakan diri ini adalah si
qalbun salim dan luhur budi. Bila ada benarnya tentu berasal dari Allah, bila ada
salahnya maka niscaya dari si dhaif dan faqir ini. Teriring doa semoga kita semua selalu dalam bimbingan taufik dan hidayah Allah.
Semoga bermanfaat dan Allah ridha. Wassalam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar