Ketika melihat kemiskinan tak menghalangi seorang nenek untuk memelihara seorang anak yatim piatu yang berkebutuhan khusus, maka kagum dan malu tak kuasa ditahan di hati ini.
Iqbal (8 tahun) adalah seorang yatim piatu yang ditakdirkan Allah sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK) yang "menderita" cerebral palsy (gangguan fungsi otak). Tumbuh-kembangnya mengalami hambatan sehingga tak seperti yang dicapai anak seusianya secara kebanyakan. Saat ini ia belum bisa bicara. Postur, gestur dan gerakannya kaku karena motorik kasar dan halusnya masih "jauh" dari sempurna. Sang bunda wafat saat melahirkannya dan sang ayah beberapa bulan lalu menyusul berpulang. Suatu kondisi yang secara zahir manusiawi memprihatinkan. Namun Allah mengirimkan baginya seorang manusia berhati tulus, seorang nenek yang bukan neneknya secara biologis, untuk memeliharanya.
Saya tidak tahu nama beliau. Kami hanya biasa memanggil beliau dengan Nini Iqbal (neneknya Iqbal). Terlihat jelas bagaimana kasih sayang yang beliau curahkan kepada Iqbal setiap kami bertemu di rumah terapi untuk ABK dari keluarga dhuafa yang kami kelola. Tentu bukan hal yang mudah bagi beliau merawat seorang ABK di tengah ekonomi beliau yang juga berkekurangan. Dalam kondisi beliau yang juga membutuhkan bantuan namun masih menempatkan diri sebagai pengulur bantuan.
Masya Allah, betapa indah kalau sifat rahmah dan yakin akan janji Allah sudah tertanam di kalbu. Keterbatasan ekonomi tak kuasa membatasi pengejawantahan keluhuran budi. Kasih sayang dan kemanusiaan yang berlandaskan iman.
Nek, semoga engkau kan menjadi orang yang dekat dengan Rasulullah SAW. Rumahmu yang sederhana tempat si yatim terpelihara insya Allah tergolong sebagai sebaik-baik rumah sebagaimana sabda Sang Junjungan:
“Aku dan pemelihara anak yatim di surga seperti ini (dan beliau memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya, lalu membukanya (HR. Bukhari, Turmudzi, Abu Daud)
“Barangsiapa mengambil anak yatim dari kalangan Muslimin, dan memberinya makan dan minum, Allah akan memasukkannya ke surga, kecuali bila is berbuat dosa besar yang tidak terampuni.( HR. Turmudzi)
“Sebaik-baik rumah kaum Muslimin ialah rumah yang di dalamnya anak yatim diperlakukan dengan sebaik-baiknya, dan sejelek-jelek rumah orang Islam ialah rumah yang di dalamnya anak yatim diperlakukan dengan jelek. (HR. Ibnu Mubarak)
Astaghfirullah, masih terlampau banyak yang diri ini harus pelajari tentang ketulusan hati dan kerelaan berbagi. Ikhlas dalam amal, yakin dalam iman dan hening dalam ihsan.
Dan aku malu.
Read more
Iqbal (8 tahun) adalah seorang yatim piatu yang ditakdirkan Allah sebagai anak berkebutuhan khusus (ABK) yang "menderita" cerebral palsy (gangguan fungsi otak). Tumbuh-kembangnya mengalami hambatan sehingga tak seperti yang dicapai anak seusianya secara kebanyakan. Saat ini ia belum bisa bicara. Postur, gestur dan gerakannya kaku karena motorik kasar dan halusnya masih "jauh" dari sempurna. Sang bunda wafat saat melahirkannya dan sang ayah beberapa bulan lalu menyusul berpulang. Suatu kondisi yang secara zahir manusiawi memprihatinkan. Namun Allah mengirimkan baginya seorang manusia berhati tulus, seorang nenek yang bukan neneknya secara biologis, untuk memeliharanya.
Saya tidak tahu nama beliau. Kami hanya biasa memanggil beliau dengan Nini Iqbal (neneknya Iqbal). Terlihat jelas bagaimana kasih sayang yang beliau curahkan kepada Iqbal setiap kami bertemu di rumah terapi untuk ABK dari keluarga dhuafa yang kami kelola. Tentu bukan hal yang mudah bagi beliau merawat seorang ABK di tengah ekonomi beliau yang juga berkekurangan. Dalam kondisi beliau yang juga membutuhkan bantuan namun masih menempatkan diri sebagai pengulur bantuan.
Masya Allah, betapa indah kalau sifat rahmah dan yakin akan janji Allah sudah tertanam di kalbu. Keterbatasan ekonomi tak kuasa membatasi pengejawantahan keluhuran budi. Kasih sayang dan kemanusiaan yang berlandaskan iman.
Nek, semoga engkau kan menjadi orang yang dekat dengan Rasulullah SAW. Rumahmu yang sederhana tempat si yatim terpelihara insya Allah tergolong sebagai sebaik-baik rumah sebagaimana sabda Sang Junjungan:
“Aku dan pemelihara anak yatim di surga seperti ini (dan beliau memberi isyarat dengan telunjuk dan jari tengahnya, lalu membukanya (HR. Bukhari, Turmudzi, Abu Daud)
“Barangsiapa mengambil anak yatim dari kalangan Muslimin, dan memberinya makan dan minum, Allah akan memasukkannya ke surga, kecuali bila is berbuat dosa besar yang tidak terampuni.( HR. Turmudzi)
“Sebaik-baik rumah kaum Muslimin ialah rumah yang di dalamnya anak yatim diperlakukan dengan sebaik-baiknya, dan sejelek-jelek rumah orang Islam ialah rumah yang di dalamnya anak yatim diperlakukan dengan jelek. (HR. Ibnu Mubarak)
Astaghfirullah, masih terlampau banyak yang diri ini harus pelajari tentang ketulusan hati dan kerelaan berbagi. Ikhlas dalam amal, yakin dalam iman dan hening dalam ihsan.
Dan aku malu.




