Jumat, 08 Maret 2013

Berisik tapi asik. Asal ...

Sebenarnya saya sering bingung juga liat kelakuan para pekicau di twitter ini. Hampir segala perkara berpotensi menjadi bahan perbincangan, baik secara bercanda, ringan, serius bahkan sampai twitwar. Tapi begitulah adanya, sejatinya tweeps adalah pekicau yang berusaha berkicau semerdu mungkin menurut seleranya, ada yang peduli dengan selera orang lain, banyak pula yang tidak. Ada pula yang minim kicau, lebih suka memantau linimasa dan retweet yang dia suka.

Saya bukan expert dalam social media, apalagi kritikus. Social media suka atau tidak memang -menurut saya- semacam miniatur dunia nyata. Orang punya gaya masing-masing dalam mengekspresikan dirinya di dunia maya ini, ada yang dengan "pencitraan" (dalam artian topeng), ada yang apa adanya, juga kombinasi keduanya.

Dakwah pun memiliki media tambahan dalam upaya penyebarannya. Para da'i sudah seharusnya menyadari bahwa socmed ternyata sangat bertenaga dengan jangkauan yang hanya dibatasi sejauh jangkauan internet. Para pengemban dakwah yang mumpuni dalam ilmu agama dan dialektika sangat cocok berkiprah di socmed, terutama twitter, dimana pertarungan ide dan paham sangat riuh.

Pertarungan ide dan pemahaman ini tak hanya lintas agama dan paham/isme, tapi juga internal agama dan isme itu sendiri. Satu rumpun Islam saja entah ada berapa segmentasi dan fragmentasi. Sebut saja pro kontra antar mazhab/manhaj, mazhabi-non mazhab, perdebatan khilafiyah taqlid-tawasul-tabarruk-bid'ah-ziarah kubur-jihad-demokrasi dll. Bagi saya sebenarnya perdebatan dan diskusi yang sehat, argumentatif dan berkonsentrasi kepada konten tanpa penyerangan pribadi adalah sesuatu yang menyehatkan akal, mungkin bahasa sekarang populer dengan kata "mencerahkan".

Diskusi antar pakar yang berdialektika secara mahir dalam berbagai bidang diperlukan agar yang awam (seperti saya) tercerahkan, mengetahui dan memahami argumen yang menyangga suatu pemahaman. Diskusi yang hangat bahkan panas tetaplah lezat bila masih di dalam wadah yang steril dari pelampiasan angkara.

Entah apa rahasia yang Allah simpan kenapa selalu ada bahan perdebatan dan manusia terpancing untuk memperdebatkan. Bahkan Kitabullah dan Sunnah Rasul pun tak luput menjadi bahan perdebatan sekaligus alasan. Mungkin menyuruh kita berpikir dan bersikap secara manusiawi sesuai fitrahnya atas perbedaan. Kala perdebatan agama tak jua menemukan persamaan, maka hendaknya jangan tiada didapati persaudaraan. Pahamilah bahwa saudara kita pun memiliki landasan. Benar atau salahnya bukanlah ranah kita memutlakkan penghakiman, selama kita masih menghirup udara dari Sang Maha Rahman.

Yang saya pahami: Bila tak jua ada kesepakatan dalam persoalan agama, maka baik-baiklah hidup di dunia dan sampai jumpa di akhirat. Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar