Rabu, 06 Maret 2013

Our Umra Jorney (part 2)

Permisi lanjutin ya.. Bismillah.

Hari ke-4: Kamis, 24 Januari 2013.
07.30: Berangkat ziarah ke Jabal Tsur, Arafah, Muzdalifah, Mina dan terakhir mengambil miqat untuk umrah ke-2 di Ja'ranah, sekitar 20 km dari Makkah. Rombongan kami kali ini naik 4 buah bus. Mana kuat jalan kaki. Hehehe..


Sampai di Jabal Tsur terasa haru hati kami mengingat perjuangan Rasulullah menegakkan dakwah dengan berhijrah sambil dikejar musyriqin Makkah. Jabal Tsur merupakan gunung batu yang cukup tinggi (lihat foto) dimana di sana Beliau SAW bersembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar RA dengan suplai logistik dari Asma' binti Abu Bakar RA. Gua itu sendiri cuma muat untuk 2-3 orang dan terletak hampir di puncak gunung. Kawan-kawan insya Allah tentu sudah tahu detail kisah yang sangat terkenal ini kan? :)



nampang dengan background Jabal Tsur

Ziarah berlanjut ke Arafah. Tentu saja Jabal Rahmah jadi favorit bagi banyak jamaah. Di bukit ini Adam AS dan Hawa berjumpa setelah terpisah 40 tahun pasca dikeluarkannya beliau berdua dari surga. Menurut sebagian riwayat Nabi Adam AS diturunkan di India dan bunda Hawa diturunkan di Jeddah (yang berarti Datuk/Nenek). Menurut guru kami (dan beliau tunjukkan tempatnya), pertemuan itu bukan di puncak bukit yang ada tiang putih itu, tapi di kaki bukit, tak jauh dari tempat Rasulullah SAW wuquf saat Haji Wida'. Kami pun dilarang beliau untuk shalat di sana karena tidak ada sunnahnya dan tidak ada fadhilahnya.

Jabal Rahmah


lokasi bekas tempat Rasulullah wuquf saat Haji Wida'


Kaki bukit dimana meeting point Adam dan Hawa.

suatu sudut Arafah
Masjid Namirah di Arafah. Diriwayatkan Rasulullah pernah shalat zhuhur-ashar di sini saat wuquf.
Menurut guru kami, di bukit ini Abrahah dan pasukan bergajahnya dihancurkan pasukan burung ababil.
Selepas ziarah kami pun menuju Ja'ranah untuk mengambil miqat umrah ke-2. Labbayk Allahumma labbayk...
Dalam perjalanan dari Ja'ranah menuju Makkah kami melewati Jabal Nur. Di sinilah terdapat Gua Hira yang sangat terkenal bagi ummat Islam itu. Gua tempat Rasulullah SAW ber-tahanus dan akhirnya mendapat wahyu pertama di sana.

puncak Jabal Nur
Setelah sampai di hotel dan naruh barang, kami langsung balik kanan untuk umrah di Masjid al-Haram. Kali ini kami sudah pinjam kursi roda inventaris Masjid al-Haram buat kedua anak kami. Satu berdua cukuplah. Sangat membantu untuk pelaksanaan thawaf dan sa'i. Alhamdulillah lancar. Tapi kali ini enggak tahalul di Marwah seperti yang pertama. Tahallul di barbershop di depan hotel, cukur plontos licin pake pisau cukur dengan biaya SR10.

selesai sa'i sebelum tahalul.

Ba'da Ashar majelis kami mengadakan pengajian dan taushiyah di hotel dipimpin langsung guru kami.

Sekitar pukul 22.30 malam Jumat itu saya kembali ke Masjid al-Haram untuk melaksanakan beberapa ritual beribadah. Selain berhasil shalat di Hijir Ismail, Maqam Ibrahim, berdoa di Multazam dan mencium Hajaral Aswad, malam itu juga saya kehilangan dompet yang alhamdulillah bisa kembali. Insya Allah ada posting khusus menceritakan ini :)



Hari ke-5: Jumat, 25 Januari 2013
Hari ini tidak ada itenerary khusus kecuali shalat berjamaah yang paling afdhal: Shalat fardhu Jum'at di Masjid al-Haram. Alhamdulillah diizinkan Allah untuk melaksanakannya.
Gak seperti biasanya di kampung, kali ini saya sudah on i'tikaf di masjid sejak sekitar pukul 10 pagi. Jam segitu juga udah gak bisa di pelataran tempat thawaf di sekeliling Baitullah, tapi masih bisa di dalam masjid. Memang di Haram biasanya lebih padat sejak malam Jumat sampai Sabtu sore dimana di warga negara-negara Arab sedang weekend dan banyak di antara mereka memanfaatkannya dengan melaksanakan ibadah umrah.
Nah, ada seorang kawan, Aji Teguh Prihatno, yang bekerja sebagai ekspatriat di Riyadh juga umrah sekeluarga bersama isteri dan sepasang anak beliau yang masih balita dan bayi. Sejak saya masih di tanah air kami sudah janjian ketemuan di Makkah. Alhamdulillah dipertemukan Allah juga kami di sana ba'da shalat maghrib di Masjid al-Haram. Ngobrol di Zamzam Tower sembari menunggu masuknya waktu Isya.Next time better, insya Allah.. :)

Hari ke-6: Sabtu, 26 Januari 2013
Sebenarnya pagi ini rombongan dijadualkan ziarah ke peternakan unta di daerah Hudaibiyah, ke situs ex tempat Rasulullah membai'at para sahabat dalam Bai'at ar-Ridhwan dan tempat perundingan Hudaibiyah dengan kaum Quraisy dilaksanakan. Di sana juga kami direncanakan mengambil miqat di Hudaibiyah untuk umrah ke-3, lalu mengunjungi Museum Arsitektural Masjid Haramayn (2 masjid suci: Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi). Namun terpaksa dimundurkan ke pukul 14.00 karena pihak museum baru bisa menerima kami pukul 16.00.
Melihat itenerary seperti itu berarti umrah baru bisa dilaksanakan menjelang maghrib dan malam baru selesai. Karena mengawatirkan anak-anak kelelahan kami sekeluarga memutuskan untuk umrah sendiri di luar jadual grup pada pagi itu juga dan nanti sekedar ikut ziarah bersama rombongan tanpa mengambil miqat.

07.30: Kami berangkat ke Tan'im untuk mengambil miqat di sana. Jaraknya sekitar 7 km dari Makkah. Setelah nego dengan sopir taksi sedan kami sepakat carter dengan tarif SR50 untuk pergi-pulang. Rada mahal sebenarnya karena kalo malam bisa tembus SR30-SR40 saja, namun bila pagi biasanya memang banyak yang  mau ke sana. Biasalah berlaku hukum supply and demand :D
Sebelum zhuhur alhamdulillah umrah ke-3 kami selesai ditunaikan.


14.30: Rombongan kami berangkat ke Hudaibiyah. Tujuan pertama adalah peternakan unta. Di sini dapat dibeli susu unta segar yang langsung diperah oleh peternak seharga SR5 untuk kemasan botol plastik ukuran 600ml.



Setelah selesai di peternakan unta kami pun berangkat ke tempat dimana dulu Rasulullah membai'at para shabat dalam Bai'at ar-Ridhwan dan mengadakan perundingan dengan kaum musyrik Makkah yang kesepakatan kedua pihak terkenal dengan Perjanjian Hudaibiyah. Redaksi perjanjian ini sepintas sangat merugikan kaum Muslimin, bahkan Umar bin Khaththab RA pun mempertanyakan hal ini kepada Rasulullah SAW, namun Beliau SAW meyakinkan para sahabat bahwa ini sudah petunjuk Allah. Terbukti kemudian hari ternyata kaum Quraisy yang malah meminta perjanjian ini dicabut karena sangat merugikan mereka. Kawan-kawan insya Allah tentu sudah tahu cerita ini, kalo pun ada yang belum tau bisa tanya sama guru, teman, buku atau mbah google deh. Catatan saya di sini sekedar menceritakan perjalanan kami saja sebagai titik beratnya. Hehehe.. Afwan.

ex situs Bai'atuturridhwan dan Perjanjian Hudaibiyah



Perjalanan pun berlanjut ke Exhibition of Two Holy Mosques Architecture. Di sini dipamerkan berbagai foto, maket, dan benda-benda yang berhubungan dengan Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi semisal pintu Ka'bah, kiswah (kain penutup Ka'bah), tiang Ka'bah, talang emas Ka'bah, pintu Masjid al-Haram dan Nabawi, pagar dan kerekan air sumur zamzam yang terbuat dari perunggu, gerbang Raudhah, replika Mushaf Utsman dll. Di sini boleh bawa kamera, namun tidak diperbolehkan membawa makanan-minuman serta menyentuh barang koleksi museum. Kalo haus sudah disediakan air Zamzam nan dingin dan segar.
Di sini juga tidak bisa didatangi secara mendadak melainkan harus mengajukan surat permohonan berkunjung dahulu baru dikabari apabila sudah disetujui.

Sebenarnya banyak foto koleksi museum yang ingin saya bagikan di sini, namun saya batasi karena tak ingin blog terlalu berat untuk dibuka.

Selesai dari dari museum jamaah pun kembali ke Makkah. Kami beristirahat di hotel dan kawan-kawan jamaah yang lain ke Masjidil Haram melaksanakan ibadah umrah.

Hari ke-7: Minggu, 27 Januari 2013
Hari terakhir kami di Makkah. Hari yang sedih karena harus berpisah dengan Baitullah. Jam 10 pagi kami melaksanakan thawaf wida' yang merupakan thawaf wajib. Tak tertahankan lagi air mata saat berpisah dengan Baitullah. Tak ingin mata yang basah ini berpaling darinya, saya pun sedapat mungkin berjalan mundur sambil melambaikan tangan serta berdoa "Ya Allah, jangan dijadikan ini yang terakhir bagi kami, namun bila Engkau ditakdirkan ini sebagai yang terakhir maka gantilah dengan Jannah". Duh, berkaca-kaca lagi mata saya saat menuliskan ini.

15.00: Kami berangkat menuju Madinah, kota Nabi, menunaikan kerinduan akan Sang Junjungan Rasulullah Muhammad SAW. Jarak perjalanan kurang lebih 490 km dengan waktu tempuh sekitar 5 jam termasuk berhenti sebentar di rest area. Jalanan lebar, mulus dan tanpa macet. Laju bus yang 120 km/jam pun tak terasa kencang. Kapan ya di Indonesia bisa gini?

20.00: Sampai di Madinah. Woww, di temperatur udara di Madinah sangat berbeda dengan Makkah. Saat itu suhu berkisar di 11 derajat Celcius dan sangat berangin. Langsung masuk Hotel Classy Andalus Suites. Hotel ini amat sangat dekat dengan Masjid Nabawi, kira-kira 30 m dan hanya beberapa langkah sudah sampai ke halaman masjid. Alhamdulillah.
Foto Masjid Nabawi diambil dari halaman hotel kami menginap.

Hotel ini mempunyai konsep seperti apartemen. Suites kami memiliki 2 kamar, living room, 2 kamar mandi dan dapur. Kami menempati Suite 6 kamar 412-413 yang mungkin di sebagian besar hotel dan bangunan di dunia tidak ada memakai angka-angka tahayul yang dianggap sial ini. Bayangin aja angka 6, trus lantai 4 kamar no. 13. Hahaha.. Gak ngaruh!

Next: Our Umra Journey (Part 3)
Prev: Our Umra Journey (Part 1)

3 komentar:

  1. Salam.. informasi yang baik sekali..saya ingin sekali melihat gambar Hotel Al Banonah. sekiranya ada dalam koleksi tuan mohon dapat dikongsi. terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih pula atas pujian dan sudah sudi berkunjung di blog ini, Tn. Fuad.
      Sayang sekali kami tidak memiliki foto hotel AlBanona kecuali beberapa foto anak-anak kami bermain di lobby hotel. Mohon maaf.

      Hapus
  2. Ämïn yä Robb :)
    Terima kasih

    BalasHapus